Start yang salah akan membawa pada jalan yang salah
Menurut saya ada beberapa hal dalam hidup ini yang kita tidak bisa hanya berpasrah diri (membiarkannya mengalir).
1. Jodoh
2. Rezeki
3. Maut
memang betul, ketiga hal diatas sudah ada yang mengatur. yaitu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.
Yang perlu digarisbawahi bukanlah hasilnya, Namun makna yang lebih dalam adalah kita harus mencari keberkahannya..
1.Jodoh = Carilah jodoh yang menentramkan maka akan membawa keberkahan
1.Jodoh = Carilah jodoh yang menentramkan maka akan membawa keberkahan
2.Rezeki = Carilah rezeki yang halal maka akan membawa keberkahan
3.Maut = Carilah pahala dan keridhoan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى maka insha Allah Husnul Khotimah
pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi soal poin 1, yaitu masalah jodoh.
yang dimaksud dengan tidak memasrahkan diri dalam hal jodoh adalah dengan mengikuti kaidah dan tuntunan yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ
ada begitu banyak hadits yang memberikan petunjuk, namun yang paling terkenal adalah :
Nabi ﷺ bersabda : wanita dinikahi karena empat perkara. Pertama hartanya, kedua kedudukan statusnya, ketiga karena kecantikannya, dan keempat karena agamanya. Maka carilah wanita yang beragama (islam) maka engkau akan beruntung. (HR.Bukhori)
Secara pribadi, saya memaknai hadits ini sebatas pada agama islam titik., sedangkan makna yang lebih dalam adalah pengetahuan dalam agama Islam nya haruslah sangat baik. dan setelah itu disambung dengan "maka engkau akan beruntung"
jadi tidak usah susah-susah memikirkan kesulitan, serta permasalahan. karna sudah ada petunjuknya. mau jadi orang yang beruntung ? nikahilah wanita karena keimanannya dan pengetahuan yang sangat dalam tentang Islam.
kembali kesaya...
saya ingin berbagi pengalaman soal memilih jodoh, kenapa saya harus berbagi? saya berharap agar semakin sedikit orang yang mengalami nasib seperti saya.
Begini kisahnya :
Dibesarkan dikeluarga dan lingkungan yang minim pengetahuan agama membuat saya "hampir" tidak mengetahui tuntunan dalam hidup ini, hidup "seenake dewe".
saya menyukai lawan jenis yang pertama tentu dilihat dari parasnya, dan suatu ketika saya menyukai seorang perempuan yang katakanlah "bukan pribumi", seperti yang saya katakan diatas bahwa saya melihat parasnya.
Dalam pemahaman saya dengan bergama Islam saja cukup untuk menikahinya, maka saya pun memilih untuk menikahinya. (terlebih dahulu ia memilih menjadi mu'alaf)., dengan melalui proses pacaran yang cukup panjang dan lama., dan sekarang setelah banyak belajar agama, saya merasakan berlumuran dosa.
Singkat cerita, setelah menikah saya merasakan bahwa ada yang kurang. mengapa hati saya tidak tenteram.. mengapa hati saya tidak juga merasakan bahagia seperti orang-orang kebanyakan yang sudah menikah.
meskipun saat ini sudah dikaruniai seorang anak. tapi tetap saja saya merasakan hampa sekali.
cara bersikap, cara menghadapi sesuatu, dan cara mendidik anak semuanya membuat saya harus mengelus dada.. hampir semuanya tidak ada yang sejalan.
suara keras dan sering membentak, menghadapi permasalahan dengan tidak memasrahkan diri pada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. , mendidik anak dengan tidak sesuai tuntunan nabi ﷺ
Mungkin ada yang berpendapat bahwa saya sebagai kepala keluarga harusnya membimbing., bagaimana dengan peribahasa berikut :
Belajar diwaktu kecil ibarat mengukir diatas batu, belajar sesudah dewasa ibarat mengukir diatas air.
Apalagi yang diajari bersifat keras kepala, bebal, dan tidak ada kemauan untuk berubah.
Satu hal yang ingin saya beritahukan, semoga fikiran kita semua bisa terbuka :
Taruhlah kita sebagai lelaki single, masih kuat menghadapi berbagai tantangan. Namun saat berumah tangga kita akan dihadapkan pada permasalahan yang cukup kompleks, mulai dari ekonomi, sosial, dan hubungan ke orang tua.
Mengingat banyaknya masalah yang akan dihadapi masih sanggupkah kita ditambah 1 masalah lagi? yaitu istri yang memerlukan bimbingan ekstra?
Jikalau kita merasa SANGAT MAMPU, hal itu tidak menjadi masalah..
Namun untuk mengatakan sangat mampu kita perlu berfikir berulang-ulang, sampai menemukan kemantaban hati..
Belajar diwaktu kecil ibarat mengukir diatas batu, belajar sesudah dewasa ibarat mengukir diatas air.
Apalagi yang diajari bersifat keras kepala, bebal, dan tidak ada kemauan untuk berubah.
Satu hal yang ingin saya beritahukan, semoga fikiran kita semua bisa terbuka :
Taruhlah kita sebagai lelaki single, masih kuat menghadapi berbagai tantangan. Namun saat berumah tangga kita akan dihadapkan pada permasalahan yang cukup kompleks, mulai dari ekonomi, sosial, dan hubungan ke orang tua.
Mengingat banyaknya masalah yang akan dihadapi masih sanggupkah kita ditambah 1 masalah lagi? yaitu istri yang memerlukan bimbingan ekstra?
Jikalau kita merasa SANGAT MAMPU, hal itu tidak menjadi masalah..
Namun untuk mengatakan sangat mampu kita perlu berfikir berulang-ulang, sampai menemukan kemantaban hati..
Komentar
Posting Komentar