Antara Anak & Cita-Cita

Bagi saya pribadi, hidup haruslah berkesan dan memberi kesan..
Saya tidak ingin hidup hanya numpang lewat,
Lahir
Tumbuh
Besar
Sekolah
Kerja
Menikah
Cari duit buat keluarga
Anak-anak menikah
Lalu meninggal

Cita-cita saya sejak kecil, saya ingin membantu orang lain sebanyak-banyak nya..
Dengan cara apa ?, tentu dengan duit.. tanpa duit gimana mau membantu orang lain ?
ada yang bilang dengan tenaga, pikiran, do'a..
Bagi saya itu terlalu simple, saya ingin memberikan sesuatu yang benar-benar realisitis.
- Memiliki sebuah perusahaan, merekrut orang-orang baik yang membutuhkaan..
- Memiliki Minimarket disetiap kampung, yang memberi subsidi untuk keluarga membutuhkan.
- Memiliki sekolah yang mendidik dan mengajarkan anak-anak menjadi generasi terbaik
- Memiliki Rumah Sakit yang merekrut suster dan dokter yang baik
- dan masih banyak lagi..

Terlalu besar ya cita-citanya ?, saya menilai diri saya memang berpikiran besar..
Tapi sayang sungguh sayang, cita-cita besar tapi kehidupan saya sangat kecil....

Tak ada yang mendukung saya meraih cita-cita tersebut,
Terutama Ibu saya, mungkin beliau menilai saya tak punya arah dan kemampuan.

Tinggal menumpang di rumah orang tua rasanya seperti menjalani rutinitas yang tinggal menunggu ajal..
Tak bisa kemana-mana., pulang kerja jaga toko. kerja lagi.. jaga toko lagi... begitu saja..
Orang tua sudah tidak sanggup mengurus, tapi ketika saya berkeinginan mengambil alih kepengurusan tidak diperbolehkan..
Padahal saya punya banyak ide untuk memajukan toko ini.., ketika mengutarakan ide langsung diblok.
Akhirnya ini sama aja jaga toko orang, tidak dibayar, malah yang jaga toko bayar sewa tiap bulan..
belum ditambah biaya listrik yang menjadi tanggungan saya.
Pufff.... jenuh.....

umur sudah menginjak 36, anak baru 1 dan sudah memasuki usia 7 tahun.
bingung lagi.., kalau mau tambah anak kapan saya bisa sukses nya ?
dalam pemikiran dan pengalaman saya, anak menambah pengeluaran..
lagipula hidup masih numpang, rasanya tidak nyaman..
apalagi ditempat yang tidak terlalu welcome..

yang kedua, istri terus mengeluh ingin punya rumah sendiri..
tambah jauh dah cita-cita..

Sampai saat ini saya belum menemukan jawaban atas skema ini...
kenapa orang dengan cita-cita mulia seperti saya belum dipermudah menemukan jalannya..
belum juga dipertemukan dengan orang-orang yang juga dengan pemikiran sama..

Apa mungkin saya harus menjalani hidup ini dengan seperti hal yang saya takutkan ?
hidup makan lalu mati..

Saya berharap dilepaskan dari semua kesulitan ini...
dan disegerakan bertemu dengan orang-orang yang berpikiran besar, serta
dimudahkan jalan menggapai cita-cita saya tersebut..

Amiinn..

Komentar